Senin, 28 April 2008

ASAL USUL SEJARAH KOTA MANADO

Pada tahun 800-san Masehi di Cotabato Mindanauw sekarang Filipina dahulu ada sebuah kerajaan suku bangsa negrito yang dipimpin oleh seorang Kulano(raja). Kerajaan ini diserang oleh suku bangsa Mongolia, akan tetapi seorang anak raja yang bernama Humansadulage beristeri Tendensehiwu berhasil meloloskan diri beserta para pengikutnya antara lain Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan yang memeliki papehe(ikat pinggang dengan ukuran satu jengkal), lenso (saputangan), dan paporong (ikat kepala). Dengan melemparkan ikat pinggang berukuran satu jengkal kelaut yang kemudian menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa mereka ke Selatan lalu tiba di daerah Molibagu. Ditempat ini mereka berkabung sambil menangis selama empat puluh hari empat puluh malam. kemudian mereka berikhar menjadi suku bangsa yang baru yaitu Suku Bangsa Sangihe. Setelah masa perkabungan berakhir mereka hidup menetap dihutan yang terletak di sebuah puncak bukit lalu mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Wowontehu/Bowontehu. Bowontehu berasal dari bahasa Sangihe yaitu W/Bowong artinya atas dan Kehu artinya hutan. Jadi Bowontehu adalah kerajaan yang terletak diatas hutan. Humansadulage sebagai Kulano (Datu/Raja) dan Tenden Sehiwu sebagai Boki (Permaisuri). Humassadulage dan Tenden Sehiwu memperanakan Budulangi. Budulangi bersiteri Putri Ting yang berasal dari khayangan. Budulangi dan Putri Ting memiliki seorang anak perempuan yang bernama Toumatiti. Toumatiti seing mencari kayu di tengah hutan rimba dan menemukan telur burung Dudugh diatas pohon Lampawanua dan membawanya ke istanah. Toumatiti hamil dari seorang Pangeran yang datang dalam mimpinya, Maka lahirlah seorang putra diberi nama Mokodaludugh atau Mokoduludugh Versi Bolmong. Mokodaludugh yang artinya Pangeran dari khayangan. Mokodaludugh menikah dengan Bania/Baunia yang keluar dari buluh tipis kuning ditemukan dihutan oleh pasangan suami istri yaitu Sanaria dan Amaria lalu dipelihara.

Pada Suatu ketika Tahun 1000-an Masehi terjadi pergolakan perang disana-sini sehingga Mokodaludugh beserta para pengikut yang setia meninggal Molibagu lalu tiba di Pasang Bentenan. Bentenan berasal dari kata Bentengang, bahasa sangir yang berarti “angkat bersama, perjuangan bersama,membawah beban berat oleh beberapa orang" di baling-baling yaitu tempat yang bernama Posolo berada disebelah timur Malesung atau Minahasa sekarang disebut Lembe berasal dari bahasa Sangir artinya sisa. Ditempat ini mereka tinggal tidak lama sebab diserang oleh Suku Mori utara teluk Tomini, Laloda dan Mangindanouw. Kemudian Mokodaludhu dan rombongan mengungsi lalu tiba di Pulisang. Pulisang berasal dari bahasa sangir yaitu kata Pelisang yang bearti terhindar dari musuh, tidak ketemu musuh. Rombongan membentuk sebuah formasi barisan pasukan berangkat menuju ke arah sebuah gunung, mereka berjalan mengintari (belitan) gunung lalu tempat itu diberi nama Gunung Lokong berarti (mengintari, mengelilingi,mengerumuni,menutupi) sekarang disebut Lokon. Mokodoludugh dan Baunia serta rombongan tinggal ditempat ini dan Baunia melahirkan seorang anak laki-laki lalu diberi nama Lokongbanua. Kemudian Mokodaluduh ingin mencari tempat seperti pasang Bentenan yaitu tempat berangkatnya perahu-perahu lalu tiba di pulau Manarauw (Manado Tua). Kata Manarou berasal dari bahasa Sangir yaitu Mararau; Marau yang artinya Jauh.

Mokodaluduh bersama rombongannya membangun kembali kerajaan Bowontehu dengan pusat pulau Manarouw dengan gelar Kulano. Di Manarouw ini Mokodoludugh dan Baunia dikaruniai lagi anak yang bernama, Jayubangkai, Uringsangiang dan Sinangiang. Penduduk kerajaan ini berkembang bertambah banyak sehingga sebagian mendiami daerah bagian utara dataran pulau Sulawesi yaitu Gahenang/Mahenang nama kuno untuk Wenang, berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu artinya api yang menyala/bercahaya/bersinar(suluh, obor, api unggun). Wenang sendiri berarti Sarung pedang. Perpindahan dilakukan dengan menggunakan perahu (Bininta), melalui tempat yang bernama Tumumpa berasal dari bahasa Sangir yang artinya turun sambil melompat,kemudian menetap di Singkil berasal dari bahasa sangir Singkile artinya pindah/menyingkir. Mereka menyebar sampai ke Pondol bahasa Sangir disebut Pondole artinya di ujung,dll. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manado Tua, P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi. .***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252].

Dalam Buku KAKAWIN NEGARA KERTAGAMA karya Empu Prapanca 1365 disebut "UDAMAKATARAYA DAN PULAU-PULAUNYA terjemahan Mohammad Jamin 1969 yaitu kerajaan-kerajaan Sangihe (Bowontehu = Raja Mokodaluduh dan Tampungan Lawo = Raja Gumansalangi), keduanya berasal dari satu keturunan yaitu raja Cotobatu Mindano selatan negara Pilipina sekarang. Kerajaan Majapahit berlabu ditanjung Pulisang kemudian ke Manado Tua lalu ke Petta kemudian ke Talaud ditempat yang bernama Makatara atau Desa Makatara untuk dijadikan pangkalan guna menyerang Kerajaan Sulu.

Penduduk Kerajaan Bowontehu/Manarouw adalah orang sangir (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit).

Pada suatu ketika kembali Mokodaluduh memerintahkan rakyatnya membuat perahu(Bininta), setelah selesai pembuatannya maka diuji kemampuan untuk mengapung, mendayung serta berlayar dari perahu. Kapal tersebut memuat putra-putri raja yaitu Lokonbanua, Uringsangiang, Sinangiang beserta Batahalawo, Manganguwi, Bikibiki, Banea dan Tungkela. Raja Mokodaludu berpesan kepada anak-anaknya agar selama dalam pelayaran tidak boleh mengeluarkan sepatah katapun, akan tetapi Sinangiang lupa ketika melihat sebuah pulau lalu bertanya pulau apakah itu ?. Maka tiba-tiba badai mengamuk sehingga terdampar di pulau Tagulandang, Siau dan Sangir. Ditempat ini Uringsangiang dan Sinangiang menangis terus menerus sehingga tempat ini disebut Sangihe yang bersasal dari kata Sangi, Sangitang, Masangi, Mahunsangi artinya menangis. Mereka hidup dan menetap ditempat ini, Lokonbanua menikah dengan Sinangiang menetap di Ngalipaeng.

Pada tahun 1380 seorang pedagang arab bernama Sharif Makdon setelah mengunjungi ternate lalu tiba di Manarouw(Manado Tua) menyebarkan Agama Islam kemudian berangkat ke Mindanouw. Kemudian jalur ini diikuti oleh pelaut asal Portugis Pedro Alfonso pada tahun 1511, Pedro Alfonso menemukan Ternate, setelah itu armada dagang asal Portugis secara resmi mengirimkan Antonio de Abreu ke Maluku tahun 1512. Pada tahun itu juga Portugis mengirimkan tiga kapal layar ke Manarouw,(Pulau Manado Tua).

Lokon Banua II (leken artinya nama yang diangkat kembali) adalah anak dari Pahawongsuluge dan Ombun Duata, keturunan ke tujuh dari Raja Humansaduluge dengan Boki Tendensehiwu Kulano(raja) Bowontehu. Berlayar dari Manarouw bersama dengan pengikutnya pergi ke pulau Siauw lalu mendirikan kerajaan Karangetang pada tahun 1510.

Bangsa barat yang pertama-tama menemukan Manarouw(Manado) ialah pelayar Portugis Simao d’Abreu pada tahun 1523.

Nama Manarow dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manarouw menjadi pintu gerbang transit kawasan timur Indonesia bagi kapal-kapal dagang bangsa asing, sehingga menjadi daya tarik bagi pedagang Cina.

Pada tahun 1563 Peter Diego de Magelhaes dari Portugis berangkat dari Ternate menuju Manarouw mengajarkan pokok-pokok iman Kristen. Lalu Raja Manarouw bersama rakyatnya 1500 orang dibaptis kesemuanya adalah orang Sangir. Baptisan dilakukan di muara sungai Tondano yakni Raja Siauw(Manarauw) bernama Possuma. Raja Possuma lalu diberi nama baptis dengan nama Don Jeronimo (nama portugis) Kemudian Peter Diego de Magelhaes ke Kaidipan (pesisir utara Gorontalo) membaptis 2000 orang selama 8 hari.

Tahun 1570 Bulango dari kerajaan Bowontehu (pulau Manarouw) berlayar menuju Tagulandang. Bulango mempunyai seorang anak perempuan bernama Lohoraung mendirikan kerajaan Taghulandang atau Kerajaan Mandorokang di pulau itu bersama para pengikutnya. Bulango adalah saudara kandung dari Lokongbanua II dimana keduanya adalah keturunan ke tujuh dari raja Humansaduluge dengan Boki Tendensehiwu dari kerajaan Bowontehu.

Pada tahun 1585 Peter lain mengunjungi Manarouw ternyata iman Kristen telah lenyap kembali menjadi kafir. 1606 Spanyol merebut kembali Maluku Utara maka penyebaran agama Kristen kembali dilakukan di Ternate.

Pada tahun 1614 Spanyol memusatkan kekuatannya di Manarouw untuk menghadapi serbuan Belanda, dibangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang berhadapan dengan pulau Manado Tua .

1619 Penduduk Manarouw sebagian besar telah beralih agama menjadi islam dan sebagian kembali ke agama suku yaitu "kepercayaan Mana"(medaroro). Oleh karena itu Misi Injil mengalihkan penyebaran ke pegunungan yaitu orang-orang dari suku pedalaman yang disebut alifuru lalu tiba Tomohon dan Tondano. Namun misi ini gagal, karena kedatangan misionaris dihubungkan dengan hasil panen. Saat itu panen tidak berhasil sehingga dikatakan dewa telah murka, para misionaris di usir. Seperti dalam surat Pater Blas Palomino tanggal 8 Juni 1619. Sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622, dia menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para Missionaris asal Spanyol. Juga Walian Kali yang menghasut kepala Negeri Kali bernama Wongkar untuk menolak dan melarang para Missionaris Spanyol untuk masuk ke pedalaman Minahasa.

Pada tahun 1623 Kerajaan Bawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua) dipindakan ke Gahenang/Mahenang nama kuno Wenang berasal dari bahasa Sangir artinya api yang menyala atau bersinar (Suluh,obor), oleh karena dialek bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mereka mengucapkan Wenang atau Benang demikian juga dengan Manarouw disebut Manado. Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow pada kurun waktu tahun 1644-1674. Penduduk kerajaan ini adalah orang sangihe (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit). Raja Loloda Daloda Mokoagow ini adalah anak dari Raja Tadohe. Sedangkan Tadohe sendiri adalah cucu dari Raja Siauw yang bernama Possuma dan cicit dari raja Tabukan(Rimpulaeng) Don Francesco Macaapo Juda I. Kerajaan Manarouw adalah sebagai kerajaan terjauh dari wilayah toritorial kerajaan Sangihe. Setelah Raja Laloda Daloda Mokoagow kemudian menjadi raja adalah Donangbala yang memiliki pedang sakti.

Suku Bantik bukan penduduk pertama yang mendiami Manarow menurut cerita Pada Tahun 1654 Salah satu kerajaan di Sangir yakni kerajaan Malingaheng Kendahe yang dipimpin oleh Raja Sahmensi Arang (Syam Syach Alam)mempunyai seorang anak bernama Putri Bulaeng Tanding. Kerajaan ini dengan wilayah bagian barat pulau sangihe,pulau Kaluwurang, Maluku Utara bahkan hingga sampai ke Mindano Selatan. Kerajaan ini tenggelam oleh karena peritiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit)mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing.

Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe di dalam terkubur kursi emas dan makota raja konon katanya di jaga oleh ikan hiu. Dari peristiwa tersebut sebagian selamat termasuk seorang yang bernama Bantik. Kemudian mereka mengangkat Bantik sebagai pemimpin lalu berihkrar menjadi satu suku yang baru yaitu Suku Bantik, dengan catatan mereka tidak boleh hidup bersama dalam satu wilayah, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Maka diatur kelompok-kelopok berlayar dengan perahu menuju ke Mindanao,ke Beo, ke kema, ke Belang,ke Manaraw, Leok-Buol sedangkan Bantik sendiri pergi ke Mongondow. Bahasa suku Bantik, menurut Ernst Kausen 2005, termasuk dalam AUSTRONESISCH,MALAYO-POLYNESISCH[1123, † 18; 295.3 Mio] WEST-MALAYO-POLYNESISCH
PHILIPPINEN[6, † 0; 600 Tsd] kelompok Sangir (280 T)(D Tahulangdan, Lembeh, Siau, Karikitang, Tamako,Manganitu, Tahuna, Kandar, Tabukang, Sangil)Talaud (60 T)(D Kaburuang, Lirang, Karakelong, Beo, Awit, Dapalan,Arangka'a, Essang, Miangas)Ratahan (30 T), (D Ratahan, Bentenan, Pasan), Bantik (10 T),Tondano (100 T) (D Remboken, Ka'kas),Tonsea (90 T) (D Kalabat-Atas, Maumbi, Airmadidi, Likupang,Kauditan)Jadi Etnis Bantik merupakan anak suku Sangir Talaud.

Dalam surat Pater Juan Yranzo yag ditulis di Manila tahun 1645 menyebutkan tentang pengusiran Spanyol dari tanah Minahasa pada tanggal 10 Agustus 1644. Pengusiran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Pater Lorenzo Garalda. Para Walian Minahasa menghasut masyarakat untuk membunuh semua Missionaris Spanyol. Rencana para walian bocor hingga para Missionaris Spanyol sempat mengungsi ke tepi pantai dan berperahu ke Siauw.

Tahun 1655 Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚’ dari kayu-kayu balok sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi. Dengan menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari Spanyol. Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Awal Tahun 1661 Kos dari Ternate berlayar menuju Manarouw disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol di Manarow. Tahun 1673 Belanda memapankan pengaruhnya di Manarouw dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari beton. Lalu Benteng ini diberi nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate. Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950).

Tahun 1675 Pendeta J. Montanus mendapati bahwa jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah. Tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing di Manado. Sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia. Kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik. (Prof.Dr.I.H.Enklaar.Sejarah gereja ringkas,81,1966)

Pada tahun 1677 Compeni mengadakan perjanjian dengan Raja Siau dengan persaratan kesepakatan bahwa Raja serta rakyat harus beralih agama dari Kristen Katolik menjadi Protestan.

Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga kini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud.

Perserikatan Pekabaran Injil Belanda Van der Kamp mendirikan NZG Tahun 1797. Tahun 1817 Pendeta Josep Kam berkunjung ke Minahasa. Tahun 1819 Lenting berkunjung ke Minahasa.Pendeta Josep Kam dan Ds. Lenting mendapati orang Kristen tidak ada pelayanan lagi,lalu mereka melaporkan keadaan itu pada NZG di Belanda. Pada tahun 1822 atas laporan diatas maka NZG mengirim 2 orang berkebangsaan Swiss, L.Lamers di Kema ( meninggal 1824 di Kema ) W. Muller di Manado (meninggal 1827 di Manado) Mereka meninggal karena penyakit Typus.Dalam pelayanan, mereka mengalamai banyak hambatan dan tantangan terutama dari kalangan turunan Eropa.Tahun 1827 pelayanan manado diganti oleh Ds. G. J. Helendoorn. 4 tahun kemudian tahun 1831 dikirim lagi 2 Orang pelayan yaitu : Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwars. Tahun 1855, NZG mengutus S.D. van der Velde van Capellen dari Minahasa ke Sangihe dan membaptis 5033 orang.Ketika itu S.D. van der Velde van Capellen sedang bertugas di Tareran,Minahasa.

Menurut Catatan Robertus Padburgge,1867, kerajaan Manarouw hancur akibat perang berkepanjangan dengan kerajaan Bolaang. Perang ini menyebabkan penduduk berserak sebagian ke pulau Sangir, Likupang dan Bitung. Menurut penuturan tua-tua bahwa sebagian orang sangir meninggalkan Manarouw akibat kekurangan makanan karena diserang oleh gerombolan kera serta adanya wabah penyakit. Penduduk yang kuat pergi ke Sangir, Likupang dan Bitung sedangkan yang sakit-sakitan mereka tetap tinggal menetap di Manarouw. Manarauw(Manado)wilayah kerajaan terjauh dari kerajaan Sangihe sejak purbakala di Molibagu,Ratahan,Bentenan,Lembe,pulisang,Lokon dan Manado Tua, Gahenang/Mahenang (wenang).

Kerajaan ini disebut dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 dengan sebutan Uda Makataraya dan pulau-pulaunya (terjemahan Moh. Yamin 1969). Menurut para ahli khususnya penguuasaan Udamakataraya bahkan Indonesia Timur, baru merupakan wacana dari Pati Gajah Mada, dengan alasan tidak ada bukti peninggalan berupa candi, prasasti,ataupun pajak/upeti seperti ditemukan pada wilayah kekuasaan lainnya. Penguasaan Majapahit itu kemungkinannya hanya dalam penguasaan wilayah perdagangan (Berniaga).

Menurut penuturan orang tua Sangihe bahwa dahulukala Kerajaan Majapahit pernah berlabu di tanjung Pulisang, kemudian di ijinkan masuk ke Manado Tua lalu berangkat menuju pelabuhan Petta Tabukan. Dengan seizin raja Gumansalangi kerajaan Tampungang Lawo,maka kerajaan Majapahit menjadikan Makatara di pulau Karakelang (Talaud) sebagai pangkalan armada perang untuk menyerang kerajaan Solok atau Sulu atau Sulug dalam bahasa sangir disebut Suluge sekarang masuk wilayah Negara Philipina.

Raja Siauw XIV. Raja Jacob Ponto 1850 – 1882
Putra Raja Bolang Itang Daud Ponto saudara dari Raja Nicolaus Ponto Tawere. Pemerintahan colonial melihat bahwa Raja Jacob Ponto adalah seorang yang berbahaya dimata pemerintah Belanda, dan menjadi duri dalam tubuh kolonial maka pada tahun 1882 beliau dibuang keluar daerahnya ke pesisir utara Jawa Barat ke kota Cirebon. Beliau menetap di Cirebon sampai wafat pada tahun 1890, dan dimakamkan di selatan kota Cirebon bernama Sangkanurip 12 km dari kota Cirebon. Bagi generasi tua di kota Cirebon beliau dikenal dengan sebutan Raja Menado.

Manado sebagai pusat kedudukan residen sehingga VOC ingin menguasainya, maka sejak itu kekuasaan para-raja dikurangi. Perdagangan dengan VOC di Sulawesi Utara ditandatangani di Manado oleh Raja Siau (ada di Arsip Sulut). Wilayah-wilayah khususnya Manado dan sekitarnya terakhir di serahkan oleh Raja Siau ke XVII bernama A.J.Mohede pada tahun 1908-1912 kepada asisten residen. Wilayah ini terpisah dari sejarah orang Sangir-Talaud oleh karena penjajah Belanda dan setelah Pada tahun 1951 dimana Manado menjadi Daerah Bagian Kota dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223, tapi hingga kini penduduk terbanyak di Kota Manado berasal dari Etnis Sangihe Talaud.

1 komentar:

  1. AUSTRONESISCH

    AUSTRONESISCH, menurut Ernst Kausen 2005 bahasa Sulawesi Utara, adalah sebagai berikut :
    AUSTRONESISCH[1144, † 25; 295.6 Mio]

    FORMOSA-Gruppe [21, † 7; 330 Tsd]

    MALAYO-POLYNESISCH [1123, † 18; 295.3 Mio]

    WEST-MALAYO-POLYNESISCH [445, † 4; 288 Mio]

    PHILIPPINEN :

    SANGIR-MINAHASAN

    SANGIR [6, † 0; 600 Tsd]
    Sangir (280 T) (D Tahulangdan, Lembeh, Siau, Karikitang, Tamako,Manganitu, Tahuna, Kandar, Tabukang, Sangil)

    Talaud (60 T) (D Kaburuang, Lirang, Karakelong, Beo, Awit, Dapalan,Arangka'a, Essang, Maingas)

    Ratahan (30 T), (D Ratahan, Bentenan, Pasan), Bantik (10 T),

    Tondano (100 T) (D Remboken, Ka'kas),Tonsea (90 T) (D Kalabat-Atas, Maumbi, Airmadidi, Likupang, Kauditan)


    MINHASAN [3, † 0; 250 Tsd]
    Tontemboan (150 T) (D Tontemboan, Tonpaso, Sonder=Matanai, Langoan),

    Tonsawang (20 T), Tombulu (60 T) (D Tonbulu, Minahasa, Taratara, Tomohon)



    GORONTALO-MONGONDOW [7, H 0; 2.2 Mio]

    MONGONDOW Mongondow (1 Mio) (D Bola'ang-Mongodow, Lolayan, Dumoga, Pasi),Ponosakan (3 T)

    GORONTALO Gorontalo (1 Mio) (D Kwandang, Marisa, Tilamuta, Limboto, Gorontalo),
    Buol (80 T),Kaidipang (50 T) (D Atinggola, Kaidipang, Bolaang-Itaang, Bintauna, Bolango)
    Suwawa (10) (D Suwawa, Bunda), Lolak

    BalasHapus